Pendidikan akhlak dalam Islam merupakan hal yang sangat urgen guna membentuk dan membina manusia menuju kedewasaan dalam mengambil sikap,baik secara fisik, akal, mental, maupun moral. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang didesain dalam bentuk kepustakaan (library research) berjenis kajian pemikiran tokoh. Tokoh dunia yang dikaji pemikirannya adalah Ibnu Miskawaih. Pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi terhadap sumber data primer berupa kitab Tahdzib Al-Akhlaq wa Tathir al’raq dan sumber data sekunder berupa literatur cetak maupun digital yang relevan. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi. Ibnu Miskawaih mendefenisikan akhlak sebagai keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu perbuatan tanpa melalui pertimbangan fikiran terlebih dahulu. Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan oleh Ibnu Miskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik sehingga dapat mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati dan sempurna. Ibnu Miskawaih menyebutkan tiga hal pokok sebagai materi pendidikan akhlak yaitu: Pertama, Materi-materi yang wajib bagi kebutuhan tubuh manusia, Kedua, Materi-materi yang wajib bagi jiwa, Ketiga, Materi- materi yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia. Metode pendidikan akhlak Ibnu Miskawaih yaitu: metode alamai, nasihat, pembiasaan, riyadhah, dan punishment. Adapun relevansi pendidikan akhlak Ibnu Miskawaih dengan pendidikan karakter di era modern yaitu masih relevan, hal ini selaras dengan landasan pendidikan karakter yang tercantum dalam Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003.